Universitas Kelas Dunia: Bukan Soal Gengsi, Tapi Soal Masa Depan
Padang, 13 February 2026
Jakarta – Wacana tentang World Class University (WCU) kembali mengemuka dalam Diskusi Pendidikan Tinggi Menuju World Class University yang diselenggarakan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Diskusi ini menghadirkan Prof. Dato’ Seri Ir. Dr. Zaini Ujang sebagai narasumber utama dan menekankan bahwa universitas kelas dunia bukan sekadar persoalan gengsi atau peringkat global, melainkan tentang dampak nyata bagi masa depan bangsa.
Dalam diskusi tersebut, disoroti bahwa selama ini istilah WCU kerap dipersepsikan sebagai kampus dengan gedung megah, mahasiswa internasional, dan posisi tinggi dalam pemeringkatan dunia. Padahal, esensi universitas kelas dunia justru terletak pada kemampuannya memberikan kontribusi langsung terhadap pembangunan nasional. Perguruan tinggi yang kuat di dalam negeri mampu menahan arus keluarnya devisa akibat studi ke luar negeri, menjaga talenta terbaik agar tumbuh dan berkarya di tanah air, serta memperkuat kemandirian bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
Penguatan kualitas universitas dalam negeri memiliki kaitan erat dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Ketika perguruan tinggi nasional mampu menyediakan pendidikan bermutu, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman, kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional akan tumbuh. Orang tua lebih yakin menyekolahkan anaknya di dalam negeri, mahasiswa lebih percaya diri menimba ilmu di kampus nasional, dan dana pendidikan dapat terus berputar untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan riset domestik.
Diskusi juga menekankan peran universitas sebagai magnet talenta. Kampus unggul tidak hanya menarik mahasiswa, tetapi juga peneliti, inovator, dan pemikir dari berbagai disiplin ilmu. Lingkungan akademik yang kuat akan melahirkan riset, inovasi, dan solusi atas persoalan nyata masyarakat. Dalam konteks ini, universitas berperan sebagai penggerak SDG 9 tentang inovasi dan infrastruktur berbasis pengetahuan, sekaligus SDG 8 melalui kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berbasis riset dan teknologi.
Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bahwa WCU tidak dibangun dari gedung atau slogan, melainkan dari manusia dan ekosistem akademik. Contoh yang disampaikan adalah standar akademik ketat bagi guru besar di universitas ternama dunia, yang mendorong budaya riset produktif, kolaborasi lintas disiplin, dan peningkatan kualitas individu secara berkelanjutan. Hal ini menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia akademik merupakan fondasi utama menuju universitas berkelas dunia, sejalan dengan SDG 4 dan SDG 16 tentang institusi yang efektif dan berintegritas.
Lebih lanjut, diskusi mengingatkan bahwa pemeringkatan global bukan tujuan akhir, melainkan alat ukur. Yang lebih penting adalah dampak nyata dari aktivitas perguruan tinggi: apakah riset mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat, apakah lulusan berkontribusi pada pemecahan masalah sosial, dan apakah ilmu yang dikembangkan relevan dengan tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan transformasi ekonomi. Ketika dampak ini tercapai, reputasi internasional akan mengikuti secara alami.
Wakil Rektor IV Universitas Andalas, Prof. Henmaidi, menyampaikan bahwa arah pengembangan universitas menuju kelas dunia harus menempatkan dampak sebagai pusat strategi. Menurutnya, penguatan internasionalisasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan mutu tridarma, sehingga reputasi global universitas lahir dari kontribusi yang nyata terhadap masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem akademik yang mendorong produktivitas dosen, kualitas pembelajaran, serta keterhubungan riset dengan kebutuhan nyata.
Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Universitas Andalas, Dr. Eng. Muhammad Makky, menambahkan bahwa universitas kelas dunia juga ditentukan oleh kuatnya jejaring kolaborasi dan kemampuan mengubah riset menjadi dampak. Menurutnya, kerja sama internasional yang strategis akan memperluas akses pada pengetahuan, memperkuat kualitas riset, dan membuka peluang inovasi yang dapat dihilirisasi. Ia menilai bahwa ketika riset dan inovasi mampu memberi nilai tambah ekonomi dan sosial, kontribusi universitas terhadap SDGs akan semakin terukur, sekaligus memperkuat reputasi institusi.