UNAND Perkuat Kontribusi SDGs Lewat Analisis Ilmiah Risiko Banjir Bandang dan Tata Ruang Berkelanjutan
Padang, 22 December 2025
Padang, Rakyat Sumbar – Universitas Andalas menegaskan kontribusinya dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui peran akademisi dalam memperkuat literasi publik, advokasi berbasis data, dan rekomendasi kebijakan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Prof. Ir. Rudi Febriamansyah, M.Sc., Ph.D., pakar manajemen lingkungan Universitas Andalas, memaparkan bahwa rangkaian banjir bandang dan galodo di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan pertemuan dua krisis: anomali iklim di atmosfer dan kerusakan lingkungan yang telah menumpuk di daratan akibat tata kelola lanskap yang tidak berkelanjutan.
Menurut Prof. Rudi, anomali siklon yang masuk wilayah ekuator merupakan fenomena tidak lazim yang menguatkan urgensi pengendalian perubahan iklim. Namun, ia menekankan bahwa besarnya dampak bencana sangat dipengaruhi kondisi daerah tangkapan air yang sudah rusak. Hilangnya hutan dan konversi lahan pada zona sensitif membuat lanskap kehilangan kemampuan menahan dan mengatur aliran air, sehingga hujan ekstrem memicu aliran permukaan yang tinggi dan berujung banjir bandang serta galodo. Paparan ini berkontribusi pada SDG 13 (aksi iklim) melalui peningkatan pemahaman publik mengenai keterkaitan perubahan iklim, risiko bencana, dan kebutuhan mitigasi berbasis sains.
Dalam analisisnya, Prof. Rudi merujuk data Sawit Watch tahun 2022 yang menyatakan Pulau Sumatera telah memasuki fase defisit ekologis untuk komoditas sawit. Pendekatan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) menunjukkan luas tutupan sawit di Sumatera mencapai 10,70 juta hektare, melampaui batas aman 10,69 juta hektare. Ia juga menyoroti pola sebaran kebun sawit, di mana sekitar 5,97 juta hektare berada pada wilayah “variabel pembatas”, yaitu kawasan yang secara hidrologis dan fisik tidak layak untuk monokultur karena berperan menjaga stabilitas sistem hidrologi dan keanekaragaman hayati. Penjelasan ini memperkuat kontribusi UNAND pada SDG 15 (ekosistem daratan) dan SDG 6 (air bersih dan sanitasi) melalui penekanan pentingnya menjaga daerah tangkapan air dan fungsi ekologis hutan.
Prof. Rudi juga menegaskan temuan analisis spasial yang memperlihatkan tumpang tindih antara konsesi sawit dan wilayah terdampak banjir bandang di Aceh, Mandailing Natal, dan Pesisir Selatan, dengan total sekitar 320.807,98 hektare konsesi sawit berada dalam bentang lanskap terdampak. Menurutnya, data ini menunjukkan bencana tidak bisa dijelaskan semata oleh curah hujan ekstrem, tetapi juga terkait tata kelola ruang dan tekanan terhadap daya dukung lingkungan. Melalui pendekatan berbasis bukti ini, Universitas Andalas berkontribusi pada SDG 11 (kota dan komunitas berkelanjutan), khususnya pengurangan risiko dan dampak bencana melalui perbaikan tata ruang, mitigasi, dan perlindungan masyarakat yang tinggal di zona rawan.
Selain aspek ekologi, Prof. Rudi menyoroti pentingnya penegakan aturan permukiman di bantaran sungai dan zona rawan bencana. Ia mendorong kebijakan tegas agar keselamatan publik menjadi prioritas, termasuk pembatasan pembangunan pada radius aman dari sungai, terutama di kawasan berlereng curam. Rekomendasi ini memperkuat SDG 11 melalui pendekatan pencegahan risiko bencana yang lebih adil dan berorientasi keselamatan.
Wakil Rektor IV Universitas Andalas, Prof. Henmaidi, menyampaikan bahwa pandangan dan analisis akademisi Universitas Andalas merupakan bagian dari tanggung jawab universitas dalam membangun literasi publik dan mendukung pengambilan keputusan berbasis sains. Menurutnya, kontribusi UNAND tidak hanya diwujudkan melalui respons tanggap darurat, tetapi juga melalui penguatan pengetahuan masyarakat dan pemangku kepentingan agar kebijakan pembangunan lebih selaras dengan prinsip keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa universitas mendorong kajian lintas disiplin untuk memperkuat mitigasi bencana dan ketahanan wilayah, sejalan dengan agenda SDGs.
Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Universitas Andalas, Dr. Eng. Muhammad Makky, menambahkan bahwa analisis berbasis data seperti ini penting untuk diterjemahkan menjadi riset terapan, rekomendasi kebijakan, dan kolaborasi multipihak. Ia menekankan bahwa pengendalian ekspansi monokultur di zona sensitif, penataan ruang berbasis D3TLH, serta perlindungan daerah tangkapan air harus didorong melalui kemitraan universitas dengan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas. Menurutnya, pendekatan tersebut mencerminkan SDG 17 (kemitraan), sekaligus memperkuat dampak jangka panjang pada SDG 13, SDG 15, dan SDG 11.
Melalui peran akademisi dan advokasi ilmiah ini, Universitas Andalas menegaskan kontribusinya dalam pencapaian SDGs: memperkuat aksi iklim dan pemahaman risiko (SDG 13), melindungi ekosistem daratan dan daerah tangkapan air (SDG 15 dan SDG 6), mengurangi risiko bencana melalui tata ruang yang aman (SDG 11), serta membangun kemitraan berbasis bukti untuk kebijakan pembangunan yang berkelanjutan (SDG 17).