Pendampingan Digitalisasi UMKM Terdampak Banjir oleh Universitas Andalas di Lubuk Minturun Dorong SDG 8 dan SDG 9
Padang, 26 February 2026
Pada 26 Februari 2026,
Universitas Andalas memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak banjir di
Lubuk Minturun melalui pendampingan digitalisasi UMKM, sebuah langkah yang
sejalan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dan SDG 9 (Industry, Innovation
and Infrastructure). Program ini menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak
cukup hanya dengan bantuan darurat, tetapi juga perlu didukung dengan penguatan
kapasitas usaha berbasis teknologi.
Kegiatan ini dilaksanakan di
Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang,
melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi,
Sains, dan Teknologi. Universitas Andalas melibatkan 50 mahasiswa dari UKM FKI
Rabbani dan UKPMF Biner untuk mendampingi Kelompok UMKM PURI Kota Padang serta
Tim Penggerak PKK Lubuk Minturun yang terdampak banjir pada akhir 2025.
Pendampingan tersebut difokuskan
pada penguatan tata kelola usaha dan percepatan adaptasi pelaku UMKM terhadap
sistem ekonomi digital. Ketua Tim Program, Hasdi Putra dari Fakultas Teknologi
Informasi, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan
riil pelaku UMKM pascabencana melalui pembenahan manajemen usaha yang lebih
tertib.
Ia menegaskan bahwa transformasi
digital bukan sekadar penggunaan aplikasi, tetapi perubahan cara mengelola
usaha secara lebih sistematis dan berbasis data. Melalui pencatatan yang baik,
pelaku usaha dapat memantau arus kas, stok, dan keuntungan dengan lebih akurat,
sehingga keputusan usaha dapat diambil secara lebih terukur.
Pada tahap awal, mahasiswa
memberikan pelatihan penggunaan aplikasi Point of Sale (POS) pada 11 Februari
2026. Dalam pelatihan ini, pelaku UMKM dilatih melakukan input barang, simulasi
transaksi, serta penyusunan laporan penjualan agar operasional usaha menjadi
lebih tertata.
Pendampingan kemudian
dilanjutkan pada 24 Februari 2026 dengan materi pengelolaan reseller dan
distribusi berbasis digital, termasuk pemanfaatan platform daring untuk
pemasaran dan pengelolaan pesanan. Tahapan ini menunjukkan bahwa pendampingan
tidak berhenti pada administrasi internal, tetapi juga diarahkan pada perluasan
pasar.
Ketua UMKM PURI, Rima Nofiana,
menyampaikan bahwa sebelum pelatihan dilakukan, pencatatan transaksi dan stok
masih dikerjakan secara manual sehingga menyulitkan evaluasi penjualan. Setelah
menggunakan sistem kasir digital, pelaku UMKM dapat mengontrol barang masuk dan
keluar dengan lebih jelas serta menghitung keuntungan secara lebih tepat.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju UMKM yang lebih tangguh dan
berdaya saing melalui teknologi.