Fakultas Teknik Universitas Andalas Bangun Hunian Sementara Pascagalodo, Perkuat Komitmen SDGs untuk Komunitas Tangguh Bencana
Padang, 27 December 2025
Padang, 27 Desember – Bencana banjir bandang (galodo) yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang beberapa waktu lalu tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga mengguncang rasa aman dan kepastian hidup masyarakat terdampak. Di tengah upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi tersebut, Fakultas Teknik Universitas Andalas (FT Universitas Andalas) mengambil peran aktif dengan membangun hunian sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Pembangunan Huntara ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kebencanaan Universitas Andalas yang didanai melalui skema khusus pengabdian bencana dan dilaksanakan langsung oleh Fakultas Teknik. Inisiatif ini menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pendidikan dan riset, tetapi juga mencakup tanggung jawab sosial untuk hadir dan memberi solusi nyata ketika masyarakat berada pada kondisi paling rentan. Langkah ini sejalan dengan komitmen Universitas Andalas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan, SDG 9 tentang infrastruktur yang tangguh, serta SDG 13 terkait aksi terhadap perubahan iklim dan risiko bencana.
Program ini dipimpin oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Is Prima Nanda, S.T., M.T., dengan dukungan jajaran pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan I Prof. Dr.Eng. Muhammad Ilhamdi Rusydi, S.T., M.T., Wakil Dekan II Devi Chandra, S.T., M.T., Ph.D., serta pimpinan lainnya. Kehadiran pimpinan fakultas secara langsung di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai kerja nyata dan berorientasi dampak, bukan sekadar aktivitas seremonial.
Aspek teknis pembangunan Huntara dikoordinasikan oleh Prof. Ir. Abdul Hakam, M.T., Ph.D., pakar geoteknik, bersama Prof. Fauzan, ahli struktur rumah aman bencana. Tim memastikan setiap hunian dibangun berdasarkan kajian risiko yang komprehensif. Lokasi pembangunan dipilih melalui analisis kontur tanah, stabilitas lereng, jarak aman dari alur sungai, serta potensi aliran material longsor. Struktur Huntara dirancang sederhana agar dapat dibangun dengan cepat, namun tetap memenuhi prinsip keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan dasar. Pendekatan ini mencerminkan penerapan SDG 9 melalui pemanfaatan rekayasa teknik untuk membangun infrastruktur yang aman dan adaptif terhadap risiko bencana.
Pendekatan yang diterapkan bersifat lintas disiplin. Dosen dan sivitas akademika Fakultas Teknik dari bidang geoteknik, struktur, lingkungan, mesin, elektro, hingga manajemen industri bekerja secara kolaboratif. Sinergi keilmuan ini memperkuat kualitas keputusan teknis dan memastikan bahwa solusi yang dihadirkan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan berbasis sains.
Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, menegaskan bahwa keterlibatan kampus dalam penanganan bencana merupakan bagian dari tanggung jawab moral Universitas Andalas sebagai perguruan tinggi besar di Sumatera Barat. Ia menyampaikan bahwa banjir bandang telah menyebabkan kerusakan berat pada permukiman warga, bahkan membuat sejumlah kawasan tidak lagi aman untuk dihuni karena berada di jalur aliran material dan zona rawan bencana berulang. Dalam situasi tersebut, kehadiran kampus untuk membantu menyediakan hunian yang lebih aman menjadi sangat penting, sebagai bagian dari upaya perlindungan masyarakat dan pengurangan risiko bencana.
Pembangunan Huntara ini diperuntukkan bagi dua warga terdampak. Penerima pertama adalah Yopi Andra, warga Batu Busuk, Kota Padang, yang rumahnya hancur total akibat galodo. Hasil kajian teknis Fakultas Teknik Universitas Andalas menunjukkan bahwa lokasi rumah lama berada di zona bahaya sangat tinggi, sehingga relokasi menjadi satu-satunya pilihan. Huntara bagi Yopi dibangun di kawasan Sungkai yang dinilai lebih aman secara geoteknis. Penerima kedua adalah Syafmaludin, warga Lambung Bukik, yang rumahnya mengalami rusak berat dan tidak layak huni. Relokasi dilakukan di wilayah Lambung Bukik pada titik baru yang telah melalui kajian teknis mendalam, dengan mempertimbangkan stabilitas tanah, jarak dari sungai, dan potensi longsor.
Wakil Rektor IV Universitas Andalas, Prof. Henmaidi, menyampaikan bahwa pembangunan Huntara oleh Fakultas Teknik memperlihatkan praktik kampus berdampak yang mengintegrasikan keilmuan, empati, dan aksi nyata di lapangan. Menurutnya, pendekatan berbasis kajian risiko dan kolaborasi lintas disiplin adalah mekanisme penting untuk memastikan kontribusi universitas benar-benar menurunkan kerentanan masyarakat dan memperkuat ketahanan komunitas, selaras dengan SDG 11, SDG 9, dan SDG 13. Ia juga menegaskan bahwa Universitas Andalas mendorong agar program pengabdian kebencanaan terus dikembangkan bersama pemerintah daerah dan komunitas, sehingga manfaatnya berkelanjutan.
Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Universitas Andalas, Dr. Eng. Muhammad Makky, menambahkan bahwa intervensi seperti Huntara perlu dipandang sebagai bagian dari ekosistem pemulihan yang lebih luas. Ia menekankan bahwa kekuatan universitas bukan hanya pada kemampuan merespons cepat, tetapi juga pada kapasitas mengubah temuan lapangan menjadi pembelajaran, riset terapan, dan rekomendasi teknis yang dapat meningkatkan kualitas rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal adalah kunci agar model Huntara aman bencana ini dapat direplikasi, sejalan dengan SDG 17 tentang kemitraan.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas, Prof. Is Prima Nanda, menegaskan bahwa pembangunan Huntara ini membawa makna yang melampaui bangunan fisik. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud empati dan tanggung jawab sosial insan keteknikan untuk memanfaatkan sumber daya keilmuan yang dimiliki demi membantu masyarakat, terutama saat bencana terjadi. Sementara itu, Prof. Abdul Hakam menekankan bahwa keselamatan menjadi prinsip utama dalam setiap tahapan pembangunan. Huntara dirancang agar cepat dibangun dan sederhana, namun tetap aman, sehat, dan layak huni, sehingga warga dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman.
Kehadiran Fakultas Teknik Universitas Andalas di tengah masyarakat terdampak diharapkan dapat melengkapi upaya pemerintah daerah dan nasional dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci percepatan pemulihan di tengah keterbatasan sumber daya, sekaligus mencerminkan praktik SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar pembangunan Huntara, inisiatif ini memperlihatkan peran Universitas Andalas sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menggunakannya untuk menjawab persoalan nyata masyarakat. Huntara yang kini berdiri di lokasi aman menjadi simbol awal baru bagi warga terdampak, sebuah ruang untuk menata kembali kehidupan, sekaligus bukti bahwa ilmu, kepedulian, dan kolaborasi dapat melahirkan harapan dan ketangguhan pascabencana.